Kategori: Artikel

BAITULMAL TAZKIA ADAKAN WORKSHOP KERELAWANAN DAN ORIENTASI SAHABAT KEBAIKAN

Rabu (03/03) Alhamdulillah, Baitulmal Tazkia telah melaksanakan kegiatan Workshop Kerelawanan dan Orientasi kepada Sahabat Kebaikan di Cafe Studente Yasmin – Kota Bogor. Acara Workshop ini dihadiri oleh total 32 peserta, terdiri dari peserta online 11 peserta dan 21 peserta offline dengan merepakan protokol kesehatan.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada relawan mengenai jati diri, prinsip dan keutamaan menjadi relawan dan mengambil peran dalam aksi-aksi kemanusiaan. Orientasi ditutup dengan acara pengukuhan anggota Sahabat Kebaikan 2021.

Terdapat dua sesi dalam workshop kerelawan dan orientasi sahabat kebaikan kali ini. Iwan selaku direktur Baitulmal Tazkia, membekali para relawan bahwa melalui dunia per-zakat-an, dunia sosial tidak akan membuat masa depan para relawan suram dan sempit akan rezeki. Namun dengan kita sering berbagi, maka Allah akan membukakan pintu rezeki dari arah yang tidak tertuga. Selain itu, Ia melanjutkan pemahaman terkait program-program yang ada pada lembaga Baitulmal Tazkia, dengan harapan dapat bersinergi antara lembaga dan para relawan.

Ahmad Zaky CEO Funder Gerak Bareng pun turut membekali para relawan Baitulmal Tazkia, pada sesi kedua itu ia menyampaikan bahwa Relawan Bukan Butuh Uang, Relawan Butuh Ruang. Ia menambahkan, bahwa jika relawan lebih banyak diberi ruang, akan membuka connecting atau relasi yang akan menunjang lembaga. Salah satu membuka commecting adalah melalui kerelawanan di sahabat kebaikan Baitulmal Tazkia  

Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah resmi menjadi anggota Sahabat Kebaikan. Semoga selalu Allah mudahkan dan teguhkan hatinya untuk bisa terus berbagi dan bermanfaat bagi masyarakat dan kalangan yang membutuhkan.

“Sungguh Allah berserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An Nahl : 128)

SAHABAT KEBAIKAN, SATU KEBAIKAN BERIBU MANFAAT

Berapa Tarif dan Nisab Zakat Profesi?

Assalamualaikum wr. wb.

Dalam zakat profesi, berapa minimal besaran pendapatan yang harus dikeluarkan? Berapa besaran tarif-nya? Apakah dikeluarkan pada saat menerima gaji atau setiap tahun? Mohon penjelasan Ustadz! Wassalamu’alaikum wr. wb.

Muhammad (Bandung)

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Seorang profesional, seperti dokter, pengacara, dan konsultan, menjadi wajib zakat apabila pendapatannya men­capai nisab. Nisab adalah batas minimal pendapatan wajib zakat. Jika kurang dari nominal tersebut, tidak wajib zakat. Angka ini ditetapkan dalam Islam agar kewajiban ini dibebankan kepada hartawan dan angka tersebut adalah standar minimal untuk seorang hartawan. Tarif adalah besaran pendapatan yang harus dikeluarkan dan diberikan kepada penerima manfaat zakat.

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama terkait nisab, tarif, dan waktu zakat profesi. Pertama, nisab zakat profesi adalah sebesar 85 gram emas (kira-kira senilai Rp 46,75 juta per tahun jika harga emas per gramnya Rp 550 ribu) dengan tarif sebesar 2,5% dikeluarkan setiap tahun atau pada saat pendapatannya mencapai nisab.

Kesimpulan ini berdasarkan qiyas (analogi) dengan zakat emas dan perak dalam nisab dan kadar zakatnya. Dengan demikian, nisab zakat profesi adalah 85 gram emas dengan tarif sebesar 2,5%. Akan tetapi, waktu pengeluaran zakat dapat dikeluarkan pada saat menerima. Sudah cukup nisab atau jika tidak mencapai nisab, semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nisab.

Hal ini sebagaimana fatwa MUI yang menyebutkan, “Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nisab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nisab. Jika tidak mencapai nisab, semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nisab. Kadar zakat penghasilan adalah 2,5%.”[1]

Zakat profesi di-qiyas-kan dengan zakat emas dan perak karena jenis dan sifat yang dizakatkan lebih mirip dengan emas dan perak. Keduanya termasuk harta (karena penghasilan keduanya berupa uang). Jika dianalogikan dengan zakat per­tanian, itu akan memberatkan muzaki (donatur) karena ta’rif- nya adalah 5 %.

Kedua, nisabnya adalah 5 wasaq atau 653 kg beras (kira-kira senilai Rp 6,53 juta jika harga beras per kilo gramnya      Rp 10 ribu) dengan tarif sebesar 2,5% dan dikeluarkan setiap kali menerima gaji.

Beberapa ulama kontemporer berpendapat bahwa nisab dan waktu mengeluarkan zakat profesi di-qiyas-kan dengan zakat pertanian, yaitu dikeluarkan setiap bulan jika mencapai jumlah 5 wasaq atau senilai 653 kg beras, sedangkan kadar zakat dianalogikan dengan zakat emas dan perak, yaitu 2,5%. Dengan analogi tersebut, nisab zakat profesi adalah senilai 653 kg beras dan dikeluarkan setiap bulan (saat mendapatkan penghasilan) sebesar 2,5%.

Seorang profesional menunaikan zakatnya jika pendapatannya minimal 5 wasaq atau 653 kg beras (kira-kira senilai Rp 6,53 juta) dengan tarif sebesar 2,5% dan dikeluarkan setiap kali menerima gaji. Atau minimal pendapatannya nisab zakat profesi sebesar 85 gram emas (kira-kira senilai Rp 46,75 juta per tahun) dengan tarif sebesar 2,5% dan dikeluarkan setiap tahun atau pada saat pendapatannya mencapai nisab.

Zakat profesi di-qiyas-kan dengan zakat pertanian karena ada kemiripan (syabah) antara zakat profesi dengan zakat pertanian, yaitu baik petani maupun tenaga profesional mengeluarkan zakatnya setiap kali panen atau mendapatkan upah. Sementara itu, dari aspek waktu mengeluarkan zakat profesi, zakat dikeluarkan setiap mendapatkan penghasilan karena empat hadis yang diriwayatkan oleh Ali ra, Ibnu Umar ra, Anas ra, dan Aisyah ra yang menegaskan kewajiban haul untuk seluruh harta wajib zakat.

Oleh karena itu, para sahabat, tabl’in, serta ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berbeda pendapat tentang syarat haul dalam zakat profesi, sebagian mensyaratkan haul dan sebagian yang lain tidak mensyaratkan haul.

Berdasarkan keterangan di atas, seorang profesional me­nunaikan zakatnya jika pendapatannya minimal 5 wasaq atau 653 kg beras (kira-kira senilai Rp 6,53 juta) dengan ta’rif sebesar 2,5% dan dikeluarkan setiap kali menerima gaji. Atau minimal pendapatannya nisab zakat profesi sebesar 85 gram emas (kira- kira senilai Rp 46,75 juta per tahun) dengan ta’rif sebesar 2,5% dan dikeluarkan setiap tahun atau pada saat pendapatannya mencapai nisab. Wallahu a’lam.

Sumber : BUKU FIKIH MUAMALAH KONTEMPORER Membahas Ekonomi Kekinian, Karya Ust. Dr. Oni Sahroni, MA

Layanan Zakat Profesi Baitulmal Tazkia:

Klik disini dapat transfer antar bank dan payment lainnya. Atau melalui rekening kami :

7090-112222 Bank Syariah Mandiri

atas nama Yayasan Tazkia


[1] Fatwa MUI No. 3 Tahun 2003 tentang Zakat Penghasilan

Bagaimana Hukum Zakat Profesi? Wajib Atau Tidak?

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Ustadz, saya ingin bertanya tentang pendapatan profesional seperti karyawan, dokter, tenaga pengajar. Apakah wajib zakat atau tidak bila menurut syariah? Dan bagaimana landasan syariahnya? Terima kasih atas penjelasannya.

Abdullah (Jakarta)

Wa’alaikumssalam Wr.Wb.

Profesi adalah pekerjaan di bidang jasa atau pelayanan selain bertani, bertambang dan berternak dengan imbalan berupa upah atau gaji dalam bentuk mata uang, baik bersifat tetap atau tidak. Baik pekerjaan yang dilakukan langsung ataupun bagian lembaga, baik pekerjaan yang mengandalkan keterampilan ataupun tenaga. Contohnya adalah pejabat, pegawai negeri atau swasta, dokter, konsultan, advokat, dosen, makelar, olahragawan, artis, seniman dan sejenisnya.

                Dalam istilah fikih, pendapatan/penghasilan professional tersebut mirip dengan mal mustafad yang dijelaskan dalam kitab-kitab fikih zakat. Zakat profesi ini bukan bahasan baru, karena para ulama fikih telah menjelaskannya dalam kitab-kitab klasik, di antaranya kitab al-Muhalla (Ibnu Hazm), al-Mughni (Ibnu Quddamah), Nail al-Authar (Asy-Syaukani), Subul As-Salam (Ash-Shan’ani).

                Menurut mereka, setiap upah/gaji yang didapatkan dari pekerjaan itu wajib zakat (Wajib ditunaikan zakatnya). Di antara para ulama yang mewajibkan zakat profesi adalah Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’awiah, ash-Shadiq, al-Baqir, an-Nashir, Daud, Umar bin Abdul Aziz, al-Hasan, Az-Zuhri, dan al-Auza’i.

Sesungguhnya tidak adasatupun ulama atau lembaga ataupun otoritas fatwa yang tidak mewajibkan zakat profesi. Semuanya mewajibkan zakat profesi, perbedaannya sebagian mewajibkan adanya haul (melewati satu tahun), dan sebagian yang lain tidak mewajibkan haul. Kesimpulan zakat penghasilan atau zakat profesi itu wajib merupakan pandangan Majelis Ulama Indonesia.

Zakat profesi itu wajib ditunaikan berdasarkan ayat, maqashid, dan maslahat. Di antara ayat yang mewajibkan zakat bersifat umum, seperti firman Allah SWT:

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. At-Taubah:103)

Hal ini sesuai dengan maqashid (tujuan) diberlakukannya zakat yaitu semangat berbagi, memenuhi hajat dhuafa dan kebutuhan dakwah. Pendapatan kaum professional itu besar, harus terdistribusi kepada kaum dhuafa sehingga ikut memenuhi hajat mereka.

Dari sisi keadilan, zakat tidak mungkin diwajibkan kepada petani yang mendapatkan penghasilan dengan nisabnya sekitar Rp. 6,5 juta. Sedangkan seorang professional (yang mendapatkan satu kali penghasilan yang setara dengan penghasilan petani dalam 10 tahun) itu tidak diwajibkan. Oleh karena itu, kewajiban zakat profesi telah sesuai dengan Maqasid kewajiban zakat dan aspek keadilan.

Kewajiban zakat profesi ini juga disebutkan dalam beberapa riwayat, di antara Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah dan Umar bin Abdul Aziz. Abdu ‘Ubaid meriwayatkan dari ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang memperoleh penghasilan: “ia mengeluarkan zakatnya pada hari ia memperolehnya”.

Bahkan jika menelaah penjelasan para sahabat, tabi’in, dan ulama setelahnya, begitu pula pandangan ulama kontemporer, lembaga fatwa di Indonesia dan lembaga zakat di Tanah Air, bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya tidak ada satupun ulama atau lembaga ataupun otoritas fatwa yang tidak mewajibkan zakat profesi.

Tetapi, semuanya mewajibkan zakat profesi, perbedaannya sebagaian mewajibkan adanya haul (melewati satu tahun), dan sebagian yang lain tidak mewajibkan haul. Kesimpulan zakat penghasilan atau zakat profesi itu wajib merupakan pandangan Majelis Ulama Indonesia. Wallahu a’lam.

Sumber : BUKU FIKIH MUAMALAH KONTEMPORER Membahas Ekonomi Kekinian, Karya Ust. Dr. Oni Sahroni, MA

Layanan Zakat Profesi Baitulmal Tazkia:

Klik disini dapat transfer antar bank dan payment lainnya. Atau melalui rekening kami :

7090-112222 Bank Syariah Mandiri

atas nama Yayasan Tazkia

Open chat
Assalamu'alaikum Sahabat Baitulmal Tazkia
Ada yang bisa kami bantu?

Chat kami di sini